Selasa, 03 Desember 2019

Rumah Tangga Nyai


“Mau kemana Nyai?” sapa sebagian orang yang sedang duduk santai di beranda rumahnya, “Ini mau ke rumah Iroh” jawabnya dengan langkah kaki yang tenang. Tiba-tiba wajah kaget muncul di wajah-wajah tetangga tadi dan “Terrrrrrrrr” Nyai mengeluarkan pisau dan menusukkan ke kaca rumah Iroh. Dari dalam terdengar teriakan Iroh sambil lari tergopoh-gopoh. Tetangga berlarian menuju rumah Iroh untuk memastikan apa yang terjadi di sana. Sebagian warga yang lebih dekat cepat mengejar Nyai dan menahannya untuk tidak mengejar Iroh. Nyai pun berteriak kencang, ia sangat marah dan membenci Iroh.

Nyai lolos dari tangan tetangga yang menahannya. Ia mencari-cari sesuatu di sebuah almari. Semua benda pajangan jatuh pecah berantakan. Nyai seperti berubah menjadi seekor binatang buas yang hendak menerkam mangsanya. Ulah Nyai membuat warga semakin banyak berdatangan dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada Nyai dan Iroh.Nyai menemukan selembar kertas yang entah bertuliskan apa. Ia berlari keluar sambil tertawa, “Hahahaha..lihat ini warga lihat. Ini kertas yang suamiku kasih pada Iroh. Ia akan mendapatkan rumah dan iri rumahku. Semuanya akan sia-sia, surat ini aku sobek, lahatlah ini” dan, “breeeeeeet” kertas itu disobek hingga menjadi lembaran-lembaran kecil dan dibuang layaknya merayakan acara. Sobekan tersebut melayang-layang dan jatuh. Nyai kembali tertawa dengan terbahak.
....
Dari pagi hari memang terdengar desas-desus seseorang yang memergoki suami Nyai dan Iroh melakukan hubungan terlarang di kebun dekat semak belukar samping desa. Dasahan Iroh membuat orang tersebut mendekat dan mengintip. Karena tidak diberi uang oleh suami Nyai, akhirnya orang tersebut menyebarkan berita itu. Selain itu, sebagian tetangga di tempat sayur juga menggosip perihal sang suami yang akan menceraikan Nyai dan menikah dengan Iroh. Sang suami sudah memberikan surat perjanjian itu kepada Iroh. Berita tersebut terdengar cepat oleh Nyai dan membuatnya geram dan marah.

Berita tersebut sudah bukan aneh lagi. Suami Nyai dan Iroh memang sudah lama dikabarkan menjalin hubungan tanpa sepengetahuan Nyai. Tapi, Nyai tidak pernah percaya akan hal itu. Ia mengira bahwa tetangga itu hanya sirik akan kekayaan keluarganya dan menginginkan mereka hancur. Nyai yang terlalu sensitif itu meminta pindah tempat tinggal saja kepada sanga suami, namun sang suami tetap tidak mengindahkan permintaannya dengan alasan sudah nyaman di tempat tersebut.Nyai kembali berlari masuk ke rumah Iroh dan mencari-cari dimana Iroh bersembunyi. Tangan kanannya memeng pisau berukuran besar. Tetangga kembali histeris dan mengejarnya, namun takut untuk menahan Nyai yang memegang pisau tersebut.

Sang suami datang dan membentak Nyai. Nyai berbalik badan dan memandang ganas suaminya. Ia berbicara sambil menangis, “Teganya kamu mengkhianati aku yang sudah bertahun-tahun menemanimu. Yang sudah setia membantu kamu hingga kamu sukses seperti sekarang. Binatang kamu!!! binatang !!” Nyai menangis, lemas, dan terjatuh. Pisau itu terlepas dari tangannya dan cepatlah diambil oleh tetangga yang berada disampingnya.Setelah sadar, Nyai mendapati surat cerai yang diberikan oleh sang suami.

Ia menjelaskan bahwa ia tidak bisa hidup lagi dengan Nyai. Hingga saat ini kehidupannya bersama Nyai tidaklah sepenuhnya bahagia. Nyai masih belum juga memberikannya seorang anak, sementara pada tubuh Iroh, sudah ada janin yang dikandungnya. Sang suami harus segera menikahi Iroh. Nyai sudah tidak bisa berkata apa-apa. Ia memang tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Nyai mengidap penyakit mandul. Sampai kapan pun ia tak akan bisa memiliki seorang anak. Nyai sudah berusaha mengadopsi dari panti asuhan, tapi tetap saja sang suami merasa tidak cocok dan malah lari ke perempuan lain. Nyai mencoba menyadari dan menandatangani surat perceraian tersebut.

Pulang Mondok


Liburan semester genap tahun ini Tiara menghabiskan waktunya di rumah. Tidak seperti biasanya yang harus berlibur ke luar kota. Kesibukannya di pondok pesantren membuatnya memendam banyak rindu pada kampung halaman dan keluarganya. Tiara pulang ke rumah dengan wajah riang dan gembira disambut oleh ayah dan ibunya.Keluarga menyambut kedatangan Tiara dengan suka cita, kecuali sang asisten rumah tangganya. Ia hanya diam saja dan cuek akan kedatangan Tiara. Pekerjaannya saat ini dirasa semakin ringan saat perginya Tiara ke pondok. Tidak ada yang mengomeli dan mennyuruh-nyuruh membuat ini atau mengambil itu.

Dalam hatinya kali ini menggumam, “Satu bulan Tiara akan tinggal di rumah, pastilah rumah ini berantakan lagi dan semakin banyak suruhan”. Sang bibi melempar senyum seadaanya ketika menyambut anak dari majikannya tersebut dan lekas membawa semua barang bawaan milik Tiara. Di sana terdapat begitu banyak koper yang berisi buku-buku hasil koleksi bacaan Tiara dan oleh-oleh berupa makanan  dan baju juga. Tiara mulai membuka oleh-oleh dan memberikannya kepada ayah, ibu, dan tidak lupa kepada bibi rumah. Si bibi tampak kaget, baru kali ini Tiara memberikan oleh-oleh kepadanya, biasanya tidak pernah.

Karena mendapatkan oleh-oleh, si bibi menjadi sedikit senang dan semangat membantu Tiara untuk membongkar barang bawaannya.Di hari kemudian, sang bibi sampai di rumah majikannya dan hendak membangunkan Tiara. Tapi, sampai kamarnya, Tiara sudah tidak ada dan kamarnya sangat jauh berbeda dengan yang dilihat sebelum-sebelumnya. Kamar Tiara tampak bersih dan rapih. Si bibi tampak bingung dan mencari dimana anak majikannya itu. Di pojokan dekat ruang mengaji, si bibi mendapati Tiara sedang merapihkan buku-buku bacaan yang dibawanya dan disusun rapih pada rak yang sepertinya baru dibeli.

Si bibi hanya tersenyum dan melanjutkan jalannya ke arah dapur. Ia mendapati cucian piring pun sudah tidak ada, padahal semalam masih banyak piring yang belum dicuci karena sang ayah membelikan banyak makanan untuk Tiara. Semua piring sudah tertata rapih di raknya. Bibi berjalan juga ke arah cucian baju. Semua baju kotor sudah tidak ada di tempatnya. Si bibi berlari ke lantai atas untuk mengecek apakah baju-baju itu memang sudah dicuci dan dijemur. Dan ternyata bibi mendapat semuanya sudah tersusun di jemuran dengan rapih. Tampaknya semua pekerjaan rumah sudah diselesaikan oleh Tiara. Tapi, si bibi masih tidak percaya. Ia penasaran dan ingin sekali bertanya langsung pada Tiara.

Di sela-sela kerjaannya menyetrika baju, tiba-tiba Tiara datang dan meminta bibi untuk makan terlebih dahulu. Tiara meminta untuk menggantikan menyetrika baju saat bibi sedang makan. Si bibi semakin bingung dengan perubahan yang terjadi pada anak dari majikannya itu. Dulu, Tiara adalah seorang anak yang sangat pemalas. Ia selalu mengandalkan si bibi untuk menyelesaikan semua urusannya. Ia juga selalu menyuruh bibi apapun pekerjaannya. Terkadang, jika keinginannya tidak terealisasikan, Tiara akan marah dan menuduh bibi yang tidak-tidak, bahkan menyuruh sang ibu untuk memecatnya. Maka dari itu, sudah banyak sekali asisten rumah tangga yang keluar masuk di rumah ini. Tapi, bibi yang satu ini adalah bibi yang beruntung.

Sambil menyetrika baju dan menunggu bibi menyelesaikan makannya. Tiara mengajak si bibi berbicara tentang pengalamannya di pondok pesantren, “Bi, maafin Tiara yang dulu ya bi, dulu Tiara suka suruh-suruh bibi dan marah-amarah terusa sama bibi”, “Lho kenapa neng? ya ngga papa atuh, kan bibi mah emang buat disuruh-suruh” dengan logat sundanya si bibi menanggapi Tiara. “Ternyata di pondok itu beda banget bi, disana Tiara harus rajin, harus bangun pagi, dan yang paling penting, disana Tiara harus bisa menghargai teman-teman Tiara bi.

Kalau nggak menghargai, nanti Tiara ga ada temannya”, “Nah kan memang seperti itu neng, jadi orang mah harus menghargai dan menghormati sesama”, “Iya bi, maafin Tiara yang dulu ya. Sekarang Tiara sama Bibi ngga ada bedanya, kita sama-sama manusia yang harus saling tolong menolong ya bi” dan seketika bibi berhenti makan dan memuji Tiara, “Ya Allah, si neneng Tiara teh sudah sadar, ya semoga neng Tiara selalu istiqomah dan selalu mengerjakan hal-hal yang lebih baik lagi ya neng. Bibi doain semoga neng Tiara semakin sukses dan dilancarkan sekolahnya.” Tiara pun nelangsa dan duduk memeluk si bibi. Tiara berjanji akan menjadi seorang anak yang baik dan menghargai sesama.

Perawan Tua


Perawan tua itu bernama bu Fitri. Ia sama sekali tidak ingin menikah lagi selepas ditinggal nikah oleh kekasihnya dan juga dijodohkan dengan lelaki yang tidak dicintainya oleh kedua orang tua. Ia hidup sebatang kara hingga usianya yang tua kini.“Orang bilang “Sesuatu akan bisa karena terbiasa” begitupun dengan cinta, “Tumbuhnya cinta karena terbiasa bersama.” Gumam Fitri dalam hatinya. Ia merasa bimbang akan calon suami yang dipilihkan oleh kedua orang tuanya. Kebimbangan itu semakin hari semakin menjadi. Bermacam tirakat sudah dilakukan dari berpuasa hingga sholat malam. Tapi yang muncul dalam dirinya hanya keraguan-keraguan saja.

Sebentar lagi calon suami pilihan orang tua akan datang melamar. Umurnya yang semakin tua membuat Fitri sulit untuk menolak. Di lain sisi, ia juga tak memiliki calon suami. Seseorang yang dikasihinya sudah bersama dengan yang lain. Ia seperti makan buah simalakama.Berulang kali Fitri mencoba menenangkan hatinya. Ia percaya bahwa dengan seiringnya jalan, ia akan dapat mencintai calon suami pilihan orang tuanya. Fitri mencoba bersabar dan tetap terus berdoa dan hanya berpasrah kepada Yang Kuasa. Ia yakin bahwa cinta itu akan bisa tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Dengan keyakinan bahwa pilihan orang tua adalah yang terbaik, maka menikahlah Fitri dengan calon suami pilihan orang tuanya.

Sangat sulit bagi Fitri untuk memulai kehidupan berkeluarga. Terlebih karena ia belum begitu mengenal dan mencintai sang suami. Tapi, sang suami yang ternyata sangat tulus menerima Fitri, mau berbuat apa saja untuk mendapatkan hati istrinya. Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, sang suami turut membantu Fitri merapihkan rumah dan menyiapkan makanan. Tutur katanya yang sopan dan ramah membuat Fitri menghormatinya. Bahkan sang suami tidak memaksa Fitri untuk berbuat yang diinginkannya karena ia paham dengan apa yang dirasakan oleh sang istri.Suatu hari, Fitri berkunjung ke rumah orang tuanya.

Ia rindu dengan kamarnya dahulu. Ia lelah, melamun, dan tertidur. Orang tuanya mendapati anak perempuannya yang sedang tertidur dan lekas membangunkan. Begitu bangun dari tidurnya, Fitri memeluk sang ibu. Ia tak kuat menahan tangisnya. “Dengar ya nak, tidak apa-apa. Mungkin belum saja. Sering-seringlah berbincang dengan dia, nanti perasaan cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Yang ikhlas ya nak karena Allah semata”Fitri menangis semakin kencang. Sang ibu memintanya kembali ke rumah dan menyiapkan makanan untuk suaminya. Fitri yang patuh itu lekas menjabat tangan kedua orang tua dan kembali ke rumahnya dengan hati yang penuh keraguan bahwa ia tidak mencintai suaminya sama sekali.Sasampainya di rumah, ia menyiapkan makanan dan minuman. Sang suami pulang membawa sekotak roti untuk Fitri.

Namun, tetap saja tidak ada ekspresi bahagia dari wajahnya. Ia pergi ke kamarnya dan entah apa yang akan dilakukannya. Ia tak ingin memandang wajah sang suami. Sang suami semakin bingung dan ingin mendengar alasan istrinya.Fitri menginginkan cerai saja. Ia benar-benar tidak ingin hidup dengan seorang laki-laki yang tidak dicintainya. Ia sungguh masih mencintai kekasihnya yang dahulu. Ia sama sekali tidak bisa melupakannya. Namun sayang kekasihnya sudah dimiliki oleh orang lain. Dengan sangat menyesal, Fitri meminta diceraikan saja oleh sang suami.Sang suami yang sudah sejak lama menahan kesabarannya itu tiba-tiba berubah menjadi seorang laki-laki yang kasar sekali. Ia marah seketika itu. Kesabarannya sudah tidak dapat dibendung lagi. Baginya, Fitri sangatlah keterlaluan.

Ia memarahi Fitri sejadi jadinya. Semua kata-kata kasar itu keluar dari mulutnya. Kadang ia masih tidak percaya dengan keputusan Fitri, namun jawaban Fitri tetaplah sama. Sang suami akhirnya menceraikan Fitri. Karena diliputi kekecewaan yang besar, ia melampiaskannya pada minuman keras dan wanita-wanita bayaran di luar sana. Cintanya kepada Fitri masih ada, namun dirinya tak dihargai sama sekali oleh istrinya itu. Perpisahan itu membuat kedua orang tua Fitri marah dan kecewa dengan anak perempuannya. Putrinya terlalu mementingkan perasaannya saja. Hingga beberapa tahun kemudian, Fitri tetap menjadi seorang janda yang sama sekali belum dikaruniai seorang anak dan masih gadis hingga umurnya yang menua.

Perihal Rasa


Siang hari menjelang sore di beranda rumahnya, bu Tia dan Santi, anak perempuannya duduk santai sambil menikmati pisang goreng yang dibelinya di warung sebelah rumah. Sambil mecomoti sedikit demi sedikit pisang yang masih panas, Santi bertanya suatu hal kepada sang ibu tentang bagaimana jika dua orang menikah tanpa didasari oleh rasa cinta. Sang ibu hanya tersenyum dan heran dengan pertanyaan putrinya. “Memangnya kamu mau menikah dengan siapa?” katanya sambil meledek, “Masa sih udah pacaran tapi ngga cinta?” ledeknya lagi sambil sesekali melirik ke wajah Santi yang sembari sibuk meniupi pisang goreng yang tak kunjung dingin.Akhir-akhir ini sang ibu berfirasat tidak enak kepada putrinya. Yang menjadi topik pembicaraannya selalu mengenai pernikahan yang didasari tanpa rasa cinta.

Sang ibu memaklumi di umur-umur seperti putrinya saat ini memang sedang galau-galaunya memilih pasangan yang mapan, baik dan bertanggung jawab. Sang ibu tahu bahwa putrinya sudah memiliki kekasih, namun justru yang sampai saat ini masih dicintainya adalah mantan kekasihnya. Tapi, kekasih Santi saat ini adalah sosok seorang laki-laki yang baik, mapan, dan sangat mencintai Santi. Berkat kebaikannya itu lah Santi menjadi luluh dan ingin mencoba mengenalnya terlebih dahulu.Tiba-tiba sang ibu bercerita tentang kisah asamaranya selagi muda, “Dulu ibu juga merasakan apa yang Santi rasakan.

Dulu, sebelum menikah dengan ayahmu, ibu punya pacar yang sudah mapan pekerjaannya, cukup umurnya, tampan, dan ibu sangat menyukainya”, “Tapi kenapa ibu malah memilih menikah dangan ayah?” celetuknya tiba-tiba. “Nah itu, fisik dan materi yang dimilikinya saja ternyata tidak cukup nak. Kita juga harus melihat sifat dan kepribadiannya. Dulu, pacar ibu ditempatkan kerja di luar kota. Lama sekali tak ada kabar. Tiba-tiba waktu pulang ke rumah dan menemui ibu, ia bilang kalau ia tidak suka dengan tanda lahir yang ada pada tangan ibu ini. Eh ternyata, bukan itu alasan sesungguhnya.

Di luar kota, ia menghamili wanita lain dan akan segera menikahinya”, “Ciyeeeeeee ibu cemburu ni ye, sakit hati” ledek Santi pada ibunya. “Hmm, lalu datanglah ayahmu itu. Dia dulunya musuh ibu, entah mengapa tiba-tiba dia main ke rumah dan mengejek ibu yang baru putus cinta. Lalu ayahmu bilang kalau satu bulan kedepan kamu dan aku tidak juga memiliki pasangan, yasudah kita menikah saja” Santi semakin fokus mendengarkan cerita sang ibu. “Ibu juga takut awalnya, tapi lama-lama karena terbiasa bersama maka tumbuhlah rasa sayang dan cinta sampai hari ini. Yang terpenting itu, seorang laki-laki harus mencintai wanitanya dengan tulus, menghargai wanita dengan baik, pastilah wanita itu akan luluh dan sayang”.

Santi kembali pada pisang gorengnya dengan pikiran entah kemana. Ia seperti memikirkan perasaannya. Ia berlari ke kamarnya dan merenungi sendiri apa yang tengah dirasakannya.Beberapa waktu kemudian, Santi ingin mencoba seperti ibunya, toh mantan kekasihnya juga tak kunjung kembali, ia juga sudah bersama yang lain dan tak pernah peduli lagi dengan perasaan Santi. Akhirnya Santi pun menghargai tawaran kekasihnya untuk melamar. Sang ibu yang sudah tau akan sifat kekasih Santi tersebut mengizinkannya untuk berkunjung ke rumah.Kekasih Santi sudah mendapatkan izin dari kedua calon mertuanya. Ia melamar dan menikahi Santi. Setelah pernikahan itu, Santi merasa bahwa dirinya benar-benar bahagia. Ketakutan-ketakutan yang dulu datang pada dirinya, kini sirna sudah. Santi memiliki seorang suami yang baik, mapan, dan sangat mencintainya.

Menjadi Kaya Agar Harmonis


Menjadi kaya raya adalah impian semua orang. Memiliki banyak uang, rumah yang bagus, dan mobil yang bisa digunakan untuk bepergian agar tidak terkena panas dan hujan adalah keinginan yang pasti ada di kehidupan zaman ini. Laki-laki dan wanita pun saling berlomba untuk berkarir dan menjadi kaya. Terlebih seorang wanita yang takut jika tidak berkarir, nantinya hanya akan disepelekan oleh kaum laki-laki. Jika sudah disepelekan, maka kehidupan harmonis di dalam keluarga tidak akan pernah terjalin. Saat ini, tingkat kekerasan dalam rumah tangga dan angka perceraian yang semakin tinggi salah satunya adalah karena faktor ekonomi.

Sekarang kalau mau beli apa-apa pakai uang. Mau ini dan itu pakai uang. Hal itu lah yang selalu menjadi pembahasan obrolan santai di keluarga pak Tirto.Rindi, teman dari anak putri pak Tirto yang bernama Ain setiap sore menjelang pulang seringkali mendengar ceramah-ceramah pak Tirto di gasebo yang ada di taman belakang rumahnya. Hampir setiap hari Ain mengajak Rindi bermain di rumahnya. Fasilitas di rumah Ain memang lengkap. Kamarnya dingin karena tersedia alat pendingin ruangan. Ada juga komputer yang biasa digunakan untuk bermain game. Ada juga Mira, pembantu rumah yang selalu ada setiap kali dibutuhkan.

Dan yang paling membuat betah di rumah itu adalah setiap hari tidak pernah ada orang di rumah, hal itu membuat Ain dan Rindi bebas bermain dan berlari-larian.Saking betahnya bermain di ruman Ain, tak jarang orang tua Rindi menjemputnya untuk pulang. Sudah berulang kali orang tua melarang Rindi untuk bermain lama-lama di rumah Ain, takut saja jika ada kejadian yang tidak diinginkan atau ada sesuatu yang hilang maka Rindi yang akan dituduh karena ia yang paling sering bermain di rumah itu. Orang Tua Rindi kerap juga memanggil-manggil dirinya hanya untuk menyuruhnya makan siang.

Ain seringkali mengajak Rindi untuk makan di rumahnya saja dengan sayur dan lauk pauk yang enak, namun Rindi tetap tidak mau. Ia tidak ingin mengecewakan hati ibunya yang sudah memasak dan menyiapkan makan untuknya. Katanya, “Walaupun tidak enak tapi kasian ibuku sudah lelah memasak” perkataan Rindi justru membuat Ain sedih karena ia tidak pernah diperhatikan atau sekedar diingatkan untuk makan oleh orang tuanya karena semuanya sudah diatur oleh Mira di rumah.Ain kerap sekali merasa iri dengan Rindi. Meskipun hidup Rindi dan keluarganya bisa dibilang tidak mampu, namun perhatian dan kasih sayang orang tuanya mengalir dengan deras.

Ain kerap kesal dengan ibunya yang sibuk di pasar dan ayahnya yang sibuk di kantor. Meskipun materi yang Ain dapatkan jauh melebihi Rindi, namun Ain tetap tidak merasa bahagia. Orang tua Rindi hanyalan seorang tukang ojek dan ibunya hanya seorang penjahit di rumah, ia selalu makan masakan orang tuanya di rumah. Setiap berangkat sekolah pun Rindi selalu cium tangan kedua orang tuanya, sementara Ain belum juga bagun tidur tapi orang tuanya sudah pergi ke tempat kerja masing-masing.Ain yang selalu sendiri itu akhirnya ingin ikut bersama Rindi saja dan bermain di rumahnya. Orang tua Rindi pun semakin lama semakin dianggapnya sebagai ibu sendiri. Perhatiannya kepada Ain membuat Ain bahagia walaupun tidak sebesar perhatiannya kepada Rindi.

Orang tua Ain pun akhirnya mengetahui bahwa Ain jarang sekali berada di rumah. Hal itu membuat ayah dan ibunya memarahi Mira. Mira yang tidak tahu apa-apa pun hanya diam saja. Ia hanya menjelaskan bahwa Ain nyaman bermain di rumah Rindi, orang tuanya perhatian, tidak seperti orang tuanya sendiri yang jarang berada di rumah. Ayahnya mulai menyalahkan sang ibu bahwasannya menjadi seorang istri tidak ada tanggung jawabnya sekali dengan anak. Sang istri juga sama, ia menuduh suaminya terlalu sibuk dengan pekerjaan dan materi yang dicarinya hingga anaknya menjadi tidak suka berada di rumah. Mereka pun menyadari, sebuah keharmonisan keluarga tidak hanya berasal dari materi yang mencukupi, namun kasih sayang diantara anggota keluarga pun berperan sangat penting demi terwujudnya keharmonisan itu sendiri.

Kembali ke Jomblo


Tita sedang merapihkan barang bawaannya ketika Fauzi meminta mengambilkan kunci mobil di kamarnya. Suara Fauzi samar-samar terdengar oleh Tita karena dirinya saat itu juga sedang asyik berbalas pesan dengan seseorang. Ia terlihat sedang mengamati sesuatu yang ada di layar handphone nya. Karena tidak juga diambilkan kunci mobil, akhirnya Fauzi masuk sendiri ke dalam kamar sambil mengamati Tita yang ternyata sedang asyik dengan dirinya sendiri. Menyadari bahwa Fauzi berjalan di depannya, Tita seketika bertanya sesuatu, “Eh ini foto saudaramu bukan?” sambil menyodohkan handphone. “Bukan, siapa itu” jawab Fauzi sambil melanjutkan langkahnya, “Gatau” jawab Tita.

Setelah selesai merapihkan barang-barang dan ditata dengan rapih di dalam mobil, Tita dan Fauzi segera berpamitan kepada kedua orang tua Fauzi dan pergi menuju kos Tita. Selama perjalanan, Tita hanya fokus ke layar handphone dan sesekali menjawab pertanyaan-pertanyaan Fauzi. Karena tidak terlalu dipedulikan oleh Tita, Fauzi pun diam, hanya fokus menyetir sembari mendengarkan lagu dangdut kesukaannya. Tita baru saja diajak oleh Fauzi untuk menghadiri pesta pernikahan saudaranya, sekaligus juga dikenalkan pada keluarga besar Fauzi sebagai calon istrinya. Tita akan segera dilamar oleh Fauzi, katanya setelah urusan keluarganya menghadapi panen tembakau selesai. Sudah dua hari Tita menginap di rumah kakak perempuan Fauzi. Semakin akrablah hubungan Tita dengan keluarga itu.

Di tengah perjalanan pulang, lagi-lagi Tita bertanya pada Fauzi sebenarnya siapa yang mengirimi pesan itu. Tulisannya cukup membuat Tita penasaran, “Terimakasih Tita, berkat bantuan orang tuamu akhirnya ibuku terselamatkan” begitulah isi pesan yang disampaikan. Berulang kali Tita bertanya siapa nama pengirim pesan tersebut, namun sang pengirim enggan menyebutkan namanya. Tita pun kesal dan mengeluh kepada Fauzi, “Siapa sih ini?” seketika Fauzi menjawabnya dengan suara tegas, “Kalau tidak jelas ya tidak usah dipedulikan. Hapus saja atau blokir sekalian!!”. Tita semakin marah dan tambah ilfeel dengan jawaban Fauzi.

Sesungguhnya di dalam hati, Tita masih ragu dengan Fauzi yang hanya tamatan SMA, wajahnya tidak enak dipandang, berkulit hitam karena sering berada di sawah. Fauzi juga belum bekerja, ia hanya membantu orang tuanya mengurus sawah-sawahnya. Awalnya Tita hanya merasa kasihan dengan Fauzi dan hanya senang saja mendapat perhatian dari Fauzi karena saat itu Tita memang berstatus jomblo. Selain itu, di setiap pertemuan Tita dan Fauzi, entah itu membeli barang atau makan, Fauzi tidak pernah mau membayarkan. Semuanya Tita yang menanggung. Hal tersebut kerap sekali terjadi dan membuat Tita semakin bosan dan ragu.

Beberapa hari kemudian Tita mengetahuni nama laki-laki yang mengiriminya pesan singkat. Dia bernama Aditya, anak dari teman ibunya. Tita belum pernah mengenalnya dan tidak pernah bertemu sama sekali sebelumnya. Aditya adalah seorang laki-laki yang gemar bersyair, puisinya sudah diterbitkan di beberapa buku. Berkat puisinya juga ia pergi ke Malaysia. Pesan-pesannya kepada Tita semakin lama semakin berubah menjadi syair-syair romantis. Aditya juga memiliki wajah yang tampan.

Tita melihatnya di foto profil Aditnya, tentu saja Tita langsung jatuh hati kepadanya.
Dua minggu setelahnya, sikap Tita kepada Fauzi semakin dingin.Tita semakin fokus berbalas pesan  dengan Aditya. Berulang kali Fauzi bertanya kepada Tita apa yang sebenarnya terjadi, namun Tita tetap menjawab bahwa tidak sedang terjadi apa-apa. Karena sikap Fauzi yang semakin membuat Tita risih, akhirnya Tita berterus terang bahwa dirinya tidak pernah sama sekali mencintai Fauzi. Ia hanya kasihan saja melihat Fauzi yang sudah tua dan tidak laku-laku. Seketika Tita mengakhiri hubungannya dengan Fauzi.

Setelah malamnya memutuskan hubungannya dengan Fauzi, pagi hari kemudian ia menjalin hubungan serius dengan Aditya. Tita terlalu terbawa perasaan akan syair-syair romantis yang dibacanya, padahal antara dirinya dan Aditya belum penah sekali pun bertemu. Karena penasaran dengan wajah Aditya akhirnya Tita menghubunginya melalui panggilan video. Ketika Aditya mengangkat panggilannya, Tita terkejut karena gigi bagian depat milik Aditnya ompong. Seketika Tita mematikan panggilan dan mengirim pesan pada Aditya bahwa ia tidak bisa lagi menjalin hubungan dengan Aditnya. Tita pun kembali menjadi jomblo seperti sebelumnya.

Malah Justru Menyatu


Kalau untuk soal menikah itu gampang. Saat ini juga aku bisa menikah. Ada beberapa juga orang tua yang memintaku agar menikah dengan anaknya saja”, “Tapi kok kamu ngga mau? kenapa nggak diterima?”, “Aku belum siap menikah. Aku takut gagal lagi, atau ternyata perempuan yang akan menikah denganku ternyata tidak ikhlas untuk dinikahkan denganku”, “Kenapa harus kalah dengan masa lalu? bangkit dong, jangan menolak yang sudah ada di depan mata dan bersyukurlah”, “Sudah lah, aku hanya ingin yang bisa saling, saling menerima dan melengkapi. Tidak hanya nikah saja”, “Oh, yasudah berdoa lah yang lebih sering dan pilihlah wanita yang benar-benar kamu inginkan, semoga berhasil ya”.

Sore itu, Faisal dan Rini berdua berboncengan menaiki sepeda motor. Faisal menjemput Rini yang baru saja turun dari bus. Mereka berdua juga baru pertama kali bertemu. Sebelumnya, mereka hanya sering berkomunikasi lewat telfon genggam saja. Tapi, Faisal dan Rini sudah cukup akrab dan saling mengenal karena seringnya berkomunikasi lewat telfon. Faisal adalah seorang laki-laki berumur 27 tahun dan sudah memiliki pekerjaan yang mapan. Salah satu keluarganya mengenalkan dirinya kepada perempuan, tetangganya, yang baru saja lulus kuliah. Keduanya diminta untuk saling bertukar nomor dan menjalani proses pendekatan, namun yang terjadi tidaklah seperti pasangan dalam cerita yang akhirnya saling mengenal dan menikah.

Mereka berdua justru menjadi sahabat dan teman untuk mencurahkan isi hatinya.Karena mengetahui sifat Faisal yang sombong karena ceritanya yang menolak beberapa perempuan untuk dinikahinya, akhirnya Rini pun selalu bersikap jual mahal di depan Faisal. Ia mengaku untuk tidak pernah bermain dengan hati, begitu pun dengan Faisal. Mereka berdua menjadi saling jual mahal satu sama lain meskipun pada kenyataannya mereka berdua saling mengeluh dan juga saling perhatian.Walaupun jual mahal, namun Rini tidak pernah mengatakan bahwa di luar sana banyak yang menantinya dan mereka semua ditolaknya.

Sementara Faisal selalu ingin terlihat lebih di mata Rini. Mereka berdua selalu ingin merasa lebih keren, terlebih Faisal. Rini yang cuek pun tidak pernah ingin mendengarkan Faisal jika sedang pamer dengan kelebihan-kelebihannya. Rini memilih untuk tetap diam dan ingin terlihat bahwa ia memang tidak pernah membawa-bawa masalah hati dalam persahabatan.Petemuan kali ini berlangsung singkat. Faisal dan Rini hanya pergi ke tempat makan dan pulang. Dan lagi, dalam pertemuan pertama dan singkat itu, Faisal kembali memuji-muji dirinya yang diminta beberapa orang tua untuk menikahi anaknya. Ia juga memuji bahwa wanita yang akan dikenalkan kepada dirinya adalah wanita yang cantik, sholehah, dan berasal dari keluarga terpandang.

Tapi, tetap saja ketika Rini bertanya mengapa Faisal tidak langsung menikahinya saja sementara memang wanita dengan tipe yang seperti itulah yang didambakannya. Faisal malah justru kembali lagi dengan Rini yang selalu saja dibilangnya tomboy dan tidak sholehah. Bahkan, Rini dianggap bukan sama sekali tipe wanita yang diharapkan. hal itu membuat Rini sangat sungkan lagi untuk bersahabat dengan Faisal.Semakin lama semakin menjadi, Faisal berulang kali membuat Rini merasa rendah. Rini yang sudah tidak kuat dengan seluruh perkataan Faisal pun akhirnya berani membuka mulutnya untuk mengutarakan isi hatinya.

Faisal, aku hanya ingin bicara sama kamu. Kamu selalu menganggapku rendah, tidak cantik, tomboy, dan tidak sholehah. Kamu selalu membandingkan aku dengan wanita-wanita yang akan dijodohkan denganmu. Tapi, hingga saat ini, kamu pun tidak menemui mereka, kamu tidak peduli dengan mereka, dan kamu malah memilih mencari aku. Kamu mengajakku bermain dan bercerita. Sesungguhnya aku lelah Sal dan aku sudah tidak sanggup kamu bandingkan terus-terusan” Rini pun memasang raut wajah penuh kesal. Dengan hati-hati Faisal menjawab, “Aku pun bingung dengan sikapku.

Aku seringkali membandingkan kamu dengan mereka. Aku bilang kamu tomboy, jelek, dan tidak sholehah karena memang penampilanmu yang tidak berhijab. Tapi, entah mengapa. Jika boleh jujur aku nyaman berada di dekatmu, aku merasa di antara kita memang saling melengkapi. Aku yang terlalu egois dan kamu yang terlalu sabar” dengan wajah menunduk Faisal mulai mengakui kesalahannya.“Lalu apa rencanamu Sal? apa akan kita akhiri saja persahabatan ini?” jawab Rini memastikan, “Enggak Rin, aku ngga mau kehilangan kamu. Aku ternyata merasa nyaman denganmu, maukah kamu menerimaku sebagai pasanganmu Rin? Aku minta maaf untuk segala salahku”. Tiba-tiba Rini menangis, ia mengangguk pelan dan mengutarakan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya. Ia mencintai Faisal.

Ketulusan Hati Si Janda Tua


Sore itu ketika langit merona jingga ku lihat barisan ibu-ibu pulang pengajian memenuhi jalan setapak depan rumah. Ku lihat juga beberapa ibu-ibu yang lain sedang duduk di beranda rumah panggung yang tak berpenghuni sambil santai menikmati sore sembari membeli jajanan bubur dan cendol yang penjualnya selalu berhenti di depan rumahku di waktu yang sama. Ada sebagian ibu-ibu pengajian yang mampir membeli bubur dan cendol untuk dibawa pulang ke rumah dan sebagian lagi memilih segera pulang karena anak dan suami yang sudah menunggu di rumah. Semua ibu-ibu yang lewat maupun yang sedang duduk di beranda rumah panggung saling bertegur sapa.

Ibuku adalah salah satu dari ibu-ibu yang duduk santai itu. Ramainya suasana di depan membuatku ingin segera mengambil sandal dan ikut bergabung dengan mereka.Ketika aku ikut bergabung dengan mereka, sebagian ibu-ibu sudah pulang dan tersisa hanya beberapa saja. Tak hanya ibu-ibu, ada juga remaja yang juga turut membeli bubur. Aku pun tergiur dengan bubur dan cendol tersebut. Ibuku yang mungkin juga memperhatikanku seketika menyuruhku mengambil dua buah mangkok dan sendok, aku segera berlari dengan semangat.

Di tengah nikmatnya menyantap bubur dan cendol, dari sebelah timur terlihat seseorang berjalan ke arah barat mengenakan baju putih. Ia juga salah satu anggota ibu-ibu pengajian yang mungkin paling terakhir meninggalkan majelis pengajian. Ia berjalan sendiri sembari membawa tas kecil di tangan kiri dan tangan kanannya memegang payung yang gunakannya seolah-oleh seperti tongkat. Wanita itu jalan melewati kami yang sedang duduk santai sembari menyapa seadanya, tidak seheboh ibu-ibu sebelumnya tadi.

Wanita itu adalah bu Wariyem. Ia adalah ibu dari salah satu temanku, Jiah. Bu Wariyem adalah seorang janda yang sudah lama sekali ditinggal mati oleh suaminya karena sakit. Jiah memang dari kecil sudah menjadi anak yatim. Sampai saat ini pun bu Wariyem masih belum menikah lagi. Dua anak laki-lakinya dan jiah, satu-satunya anak perempuan sudah menikah dan memiliki rumah masing-masing. Bu Wariyem yang saat ini hidup sendiri sangat jarang ditemui sedang berkumpul dengan tetangga yang lain. Ia keluar rumah hanya jika ada acara seperti arisan ataupun pengajian seperti saat ini.

Tidak lama setelah bu Wariyem melewati kami yang sedang duduk-duduk santai, seorang ibu-ibu yang kerap sekali menjadi biang gosip langsung membuka percakapan mengenai bu Wariyem, “Kasian ya, apa dia nggak bosen hidup sendiri, lah tapi kalau sudah tua mau menikah sama siapa, paling sama duda kampung sebelah. Hati-hati lho ibu-ibu suaminya dijaga” seperti itulah kata-kata yang keluar dari bibirnya. Satu kalimat yang akan menjadi sebuah pembicaraan yang panjang untuk banyak ibu-ibu di tempat itu. Seperti itu memang kebiasaan yang dilakukan ibu-ibu selain membeli bubur dan cendol. Mereka mulai mencari-cari kekurangan bu Wariyem. Dasar mereka, kadang mengasihani, tapi kadang juga menggunjingnya.

Beberapa hari kemudian, Jiah temanku, anak bu Wariyem dikabarkan pulang kampung. Aku sangat rindu dengannya, terlebih saat ini jiah sudah memiliki seorang anak yang masih bayi. Aku yang belum menikah ini semakin penasaran dan ingin sekali bercerita dengan Jiah. Aku pun bersiap-siap dan bermain ke rumah bu Wariyem dengan membawa tiga plastik es pisang hijau. Sesampainya di sana, Jiah dan sang ibu menyambutku dengan hangat sekali. Seketika aku merasa tidak enak karena sudah mendengar tetangga yang berdekatan denganku pernah menggunjing bu Wariyem yang janda itu. Kasian sekali memang bu Wariyem, namun seperti itulah nasib janda ini, meskipun sudah tua namun tetap dicurigai sehingga ia memilih untuk diam saja di rumah.

Sembari menikmati es pisang hijau, aku mencoba berbasa-basi dengan bu Wariyem. Aku bertanya mengapa dirinya tidak pernah main-main atau duduk-duduk dengan warga yang lain di luar. Bu Wariyem hanya menjawab bahwa ia tidak ingin menjadi omongan orang saja, dan ia pun sudah tahu bahwa ibu-ibu di luar sering menggunjing dirinya ketika dirinya berjalan melewati kelompok ibu-ibu yang lain. Ia hanya menjawab, “Biarkan saja semua orang menggunjing dan saya akan tetap mendoakan kebaikan untuk semua warga disini” seketika aku terkejut dengan jawaban bu Wariyem itu. Betapa tulus dan ikhlas hatinya menghadapi warga yang sering menggunjingnya. Aku hanya berdoa semoga bu Wariyem selalu dilimpahkan sehat dan kebahagian meskipun banyak yang tidak suka kepadanya hanya karena statusnya sebagai seorang janda.

Kisah Cinta


Air mataku tak bisa membohongi perasaan yang ada di dalam hatiku. Aku kehilangan seorang sahabat. Aku hanya diam terpaku di samping jenazahnya bersama suaminya itu. Si suami yang sudah terlihat pucat dan lelah itu masih menitikan air matanya. Kehilangan seorang istri sama saja seperti kehilangan separuh dari jiwanya.Pernikahan mereka sudah hampir lima tahun, tapi persahabatan kita bertiga sudah lebih dari itu. Betemu di jaman SMA dan berlanjut hingga bangku perkuliahan dan pelaminan bagi dua sahabatku Lela dan Fajar. Fajar menyukai Lela dari jaman sebelum persahabatan kita terjalin. Aku memiliki dua seorang sahabat yang sangat dekat. Lela sahabatku di rumah, persahabatan kita terjalin sejak aku dan dia kecil.

Ibu kami saling bertetangga dan hamil di waktu yang sama. Umurku dan Lela tidak berbeda jauh, hanya hitungan  hari saja, namun aku dan Lela tidak berada pada satu sekolah yang sama, Sementara Fajar adalah sahabatku sejak SMP. Selain memiliki hobi balap motor yang sama, kami berdua selalu selalu ditakdirkan untuk berada pada satu kelas yang sama sehingga sangat sering aku mengajaknya untuk bermain ke rumah dan mengerjakan tugas bersama-sama. Lela yang juga sudah seperti saudara ssering bolak-balik main ke rumah. Dari situ lah Fajar dan Lela berkenalan. Kita bertiga sepakat untuk melanjutkan sekolah di SMA yang sama.

Tapi sayang, mereka memilih jurusan yang berbeda denganku. Mereka masuk kelas IPS, sementara aku harus berada di kelas IPA karena ibuku yang meminta agar kelak aku menjadi seorang dokter.
Setelah lulus sekolah, persahabatan kami masih terus berlangsung hingga Fajar dan Lela sepakat untuk menikah. Mereka memilih menikah sebelum lulus kuliah. Pernikahan mereka tidak  terus membuat persahabatan kita menjadi pecar, malah justru saling menguatkan. Fajar sangat beruntung bisa memiliki seorang istri seperti Lela, seorang perempuan yang mandiri dan pekerja keras. Ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarga.

Sementara Fajar tidak bisa lagi bekerja karena kakinya yang diamputasi sebab kecelakaan yang di alaminya saat lomba balap yang diikutinya belum lama ini. Sebagai seorang sahabat aku hanya bisa menghibur dan sedikit ikut mengobati Fajar yang terkadang merintih kesakitan karena kakinya itu.
Sepulang praktik dari rumah sakit, aku selalu mengunjungi keluarga kecil sahabatku itu. Aku merasa kasihan pada Lela yang harus merawat Fajar sendirian. Akhirnya sebagai sahabat yang baik, aku pun ikut serta merawatnya dan waktuku banyak kuhabiskan untuk menemani Lela sembari mendengar curahan hatinya yang terkadang lelah harus bekerja mencari nafkah dan mengurus suaminya yang sakit.

Sebagai seorang sahabat juga aku mencoba untuk menyabarkan hati Lela. Dalam hati aku tak kuat melihatnya harus menanggung beban yang berat, inginku menggantikan posisi Fajar saja.
Tiba-tiba lamunan itu terpecah ketika aku mendengar teriakan kencang dari arah dapur di rumah Lela. Aku berlari dan mendapati Lela sudah tidak sadarkan diri. Ia terpeleset dan terjatuh dengan kepala membentur sebuah pojokan bak mandi. Darahnya mengalir dengan derasnya. Aku menggendong dan melarikannya ke rumah sakit. Dua hari aku menangani Lela yang tidak sadarkan diri. Tekanan darahnya semakin menurun dan akhirnya di suatu sore dengan mega yang hitam, Lela menghembuskan nafas terakhirnya.

Aku dan Fajar menyaksikan kepergiannya sore itu. Kami berada di sampingnya. Fajar yang hanya bisa duduk di sebelahku hanya diam menunduk. Matanya sayup, entah apa yang akan dilakukan karena keterbatasannya. Air matanya mulai menetes dan lelah tampak menyertainya. Aku mendorong kursi rodanya keluar ruangan karena jenazah Lela yang akan diurus oleh perawat.Setelah mengantarkan Fajar, aku kembali masuk ke ruangan sambil menunggu perawat yang datang. Aku memandang wajah Lela yang pucat dan mulai kaku. Air mataku mengalir deras, aku kehilangan Lela untuk kedua kalinya. Dulu Lela meningalkanku untuk menikah dengan Fajar, kini ia harus pergi untuk selamanya. Dengan tangis sesenggukan, aku pegang tangan Lela yang dingin. Aku cium tangan itu dan aku kecup keningnya untuk terakhir kalinya. Aku mencintai Lela.

Kematian Salman


Dua hari sudah jenazah Salman berada di rumah sakit. Tepat tujuh hari dari kematiannya. Keluarganya baru saja datang dari luar kota untuk membawa jenazahnya. Tapi, tidak ada juga yang tahan untuk lama-lama berdekatan dengan keluarga tersebut. Kematian Salman yang lima hari baru diketahui itu membawa kecurigaan yang mendalam pada mereka.  Tapi, kematian Salman memang di duga karena sakit yang dideritanya, masuk angin.Rudi, tetangga kamar di kosnya tidak tahu sama sekali mengenai perkara tersebut.Ia mengira Salman sedang sibuk dengan tugas-tugasnya.

Rudi yang sudah lelah  bekerja hanya sekilas saja memandang kamar Salma yang memang sudah beberapa hari itu tertutup, namun itu tak membuat Rudi penasaran karena suara televisi yang menyala. Ia menganggap mungkin Salman sedang tidak ingin diganggu. Lagian memang Salman selalu sendiri, bau badannya membuat teman-teman tak merasa betah didekatnya. Tingkat kemalasannya sudah berada pada level tertinggi di kos itu.Selang beberapa hari kemudian, Rudi sering sekali mencium bau tak sedap seperti bau bangkai. Namun, ia menganggap memang seperti itulah baunya Salman.

Bau itu semakin lama semakin menyengat dan membuat resah penghuni kamar yang lain. Rudi dan kawan yang lain mengendus-endus dari mana arah datangnya bau itu dan ketika mereka melewati depan kamar Salman, bau itu semakin jelas tercium. Mereka mengetuk kamar Salman berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Bunyi suara televisi masih terdengar, mereka menganggap mungkin Salman sedang tidur. Di hari ke lima itu ada seorang pemuda dari asrama Maluku mencari-cari Salman. Ia mengetuk kamar Salman dan diperhatikan oleh penghuni kos yang lain. Tetap saja tidak ada jawaban padahal suara televisi masih terdengar.

Tiba-tiba pemuda itu berlari ke kamar mandi dan muntah. Bau bangkai itu semakin pekat tercium membuat semua penghuni kos berencana mendobrak pintu kamar Salman. Pemuda itu mengetuk semakin keras dan keras hingga akhirnya tak sabar dan “brakkkkk” pintu kamar terbuka.Salman yang tertidur di lantai dikelilingi lalat yang begitu banyaknya tersapu kipas angin yang menyala. Badannya membesar, melepuh, dan sudah sedikit berair. Baunya membuat semua orang mual dan muntah. Salman sudah meningal dunia di kamarnya. Rudi segera menelfon polisi untuk mengecek perkara tersebut. Jenazah Salman di bawa ke rumah sakit untuk diotopsi.

Tidak ada bekas luka atau kekerasan pada tubuh Salman. Dokter mendiagnosa bahwa Salman meninggal karena masuk angin yang berlebih. Kesenanganya tidur di lantai dan berkipas angin itu menjadi penyebab masuk angin yang diderita Salman. Rudi menjelaskan, satu minggu yang lalu Salman memang terlihat pucat. Ia meminta Rudi untuk mengeriki punggungnya, tapi karena Rudi tidak suka pada bau badan Salman, ia beralasan cepat-cepat hendak berangkat bekerja, Rudi memberinya sebuah obat cair pereda masuk angin. Selain Rudi, memang tidak ada yang mau mendekati Salman. Orang itu memang terlalu malas, baunya kemana-mana, mandi pun jarang.

Akhirnya Salman diberi kamar paling pojok agar baunya yang  tak sedap itu tak mengganggu penghuni kos yang lain. Rambut gimbalnya sudah seperti tidak terurus. Kutunya menggerombol pada rambut yang sudah tak terlihat lagi belahannya. Saat ini keluarganya sudah bisa mengerti mengapa Salman selalu tidak memiliki teman yang peduli dengannya. Ia saja tidak pernah peduli dengan diri sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Ia tidak peduli dengan orang-orang disekelilingnya. Maka dari itu, tidak ada juga orang yang mau peduli dengan dirinya. Hukum alam memang selalu ada. Jika seseorang peduli dengan dirinya sendiri, lingkungan sekitar, bahkan pada alam. Maka mereka pun akan membalas kebaikan seseorang tersebut. Kematian Salman akan menjadi pelajaran bagi keluarganya itu yang memang sama bau dan kumalnya dengan Salman.