Selasa, 03 Desember 2019

Kematian Salman


Dua hari sudah jenazah Salman berada di rumah sakit. Tepat tujuh hari dari kematiannya. Keluarganya baru saja datang dari luar kota untuk membawa jenazahnya. Tapi, tidak ada juga yang tahan untuk lama-lama berdekatan dengan keluarga tersebut. Kematian Salman yang lima hari baru diketahui itu membawa kecurigaan yang mendalam pada mereka.  Tapi, kematian Salman memang di duga karena sakit yang dideritanya, masuk angin.Rudi, tetangga kamar di kosnya tidak tahu sama sekali mengenai perkara tersebut.Ia mengira Salman sedang sibuk dengan tugas-tugasnya.

Rudi yang sudah lelah  bekerja hanya sekilas saja memandang kamar Salma yang memang sudah beberapa hari itu tertutup, namun itu tak membuat Rudi penasaran karena suara televisi yang menyala. Ia menganggap mungkin Salman sedang tidak ingin diganggu. Lagian memang Salman selalu sendiri, bau badannya membuat teman-teman tak merasa betah didekatnya. Tingkat kemalasannya sudah berada pada level tertinggi di kos itu.Selang beberapa hari kemudian, Rudi sering sekali mencium bau tak sedap seperti bau bangkai. Namun, ia menganggap memang seperti itulah baunya Salman.

Bau itu semakin lama semakin menyengat dan membuat resah penghuni kamar yang lain. Rudi dan kawan yang lain mengendus-endus dari mana arah datangnya bau itu dan ketika mereka melewati depan kamar Salman, bau itu semakin jelas tercium. Mereka mengetuk kamar Salman berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Bunyi suara televisi masih terdengar, mereka menganggap mungkin Salman sedang tidur. Di hari ke lima itu ada seorang pemuda dari asrama Maluku mencari-cari Salman. Ia mengetuk kamar Salman dan diperhatikan oleh penghuni kos yang lain. Tetap saja tidak ada jawaban padahal suara televisi masih terdengar.

Tiba-tiba pemuda itu berlari ke kamar mandi dan muntah. Bau bangkai itu semakin pekat tercium membuat semua penghuni kos berencana mendobrak pintu kamar Salman. Pemuda itu mengetuk semakin keras dan keras hingga akhirnya tak sabar dan “brakkkkk” pintu kamar terbuka.Salman yang tertidur di lantai dikelilingi lalat yang begitu banyaknya tersapu kipas angin yang menyala. Badannya membesar, melepuh, dan sudah sedikit berair. Baunya membuat semua orang mual dan muntah. Salman sudah meningal dunia di kamarnya. Rudi segera menelfon polisi untuk mengecek perkara tersebut. Jenazah Salman di bawa ke rumah sakit untuk diotopsi.

Tidak ada bekas luka atau kekerasan pada tubuh Salman. Dokter mendiagnosa bahwa Salman meninggal karena masuk angin yang berlebih. Kesenanganya tidur di lantai dan berkipas angin itu menjadi penyebab masuk angin yang diderita Salman. Rudi menjelaskan, satu minggu yang lalu Salman memang terlihat pucat. Ia meminta Rudi untuk mengeriki punggungnya, tapi karena Rudi tidak suka pada bau badan Salman, ia beralasan cepat-cepat hendak berangkat bekerja, Rudi memberinya sebuah obat cair pereda masuk angin. Selain Rudi, memang tidak ada yang mau mendekati Salman. Orang itu memang terlalu malas, baunya kemana-mana, mandi pun jarang.

Akhirnya Salman diberi kamar paling pojok agar baunya yang  tak sedap itu tak mengganggu penghuni kos yang lain. Rambut gimbalnya sudah seperti tidak terurus. Kutunya menggerombol pada rambut yang sudah tak terlihat lagi belahannya. Saat ini keluarganya sudah bisa mengerti mengapa Salman selalu tidak memiliki teman yang peduli dengannya. Ia saja tidak pernah peduli dengan diri sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Ia tidak peduli dengan orang-orang disekelilingnya. Maka dari itu, tidak ada juga orang yang mau peduli dengan dirinya. Hukum alam memang selalu ada. Jika seseorang peduli dengan dirinya sendiri, lingkungan sekitar, bahkan pada alam. Maka mereka pun akan membalas kebaikan seseorang tersebut. Kematian Salman akan menjadi pelajaran bagi keluarganya itu yang memang sama bau dan kumalnya dengan Salman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar