Selasa, 03 Desember 2019

Ketulusan Hati Si Janda Tua


Sore itu ketika langit merona jingga ku lihat barisan ibu-ibu pulang pengajian memenuhi jalan setapak depan rumah. Ku lihat juga beberapa ibu-ibu yang lain sedang duduk di beranda rumah panggung yang tak berpenghuni sambil santai menikmati sore sembari membeli jajanan bubur dan cendol yang penjualnya selalu berhenti di depan rumahku di waktu yang sama. Ada sebagian ibu-ibu pengajian yang mampir membeli bubur dan cendol untuk dibawa pulang ke rumah dan sebagian lagi memilih segera pulang karena anak dan suami yang sudah menunggu di rumah. Semua ibu-ibu yang lewat maupun yang sedang duduk di beranda rumah panggung saling bertegur sapa.

Ibuku adalah salah satu dari ibu-ibu yang duduk santai itu. Ramainya suasana di depan membuatku ingin segera mengambil sandal dan ikut bergabung dengan mereka.Ketika aku ikut bergabung dengan mereka, sebagian ibu-ibu sudah pulang dan tersisa hanya beberapa saja. Tak hanya ibu-ibu, ada juga remaja yang juga turut membeli bubur. Aku pun tergiur dengan bubur dan cendol tersebut. Ibuku yang mungkin juga memperhatikanku seketika menyuruhku mengambil dua buah mangkok dan sendok, aku segera berlari dengan semangat.

Di tengah nikmatnya menyantap bubur dan cendol, dari sebelah timur terlihat seseorang berjalan ke arah barat mengenakan baju putih. Ia juga salah satu anggota ibu-ibu pengajian yang mungkin paling terakhir meninggalkan majelis pengajian. Ia berjalan sendiri sembari membawa tas kecil di tangan kiri dan tangan kanannya memegang payung yang gunakannya seolah-oleh seperti tongkat. Wanita itu jalan melewati kami yang sedang duduk santai sembari menyapa seadanya, tidak seheboh ibu-ibu sebelumnya tadi.

Wanita itu adalah bu Wariyem. Ia adalah ibu dari salah satu temanku, Jiah. Bu Wariyem adalah seorang janda yang sudah lama sekali ditinggal mati oleh suaminya karena sakit. Jiah memang dari kecil sudah menjadi anak yatim. Sampai saat ini pun bu Wariyem masih belum menikah lagi. Dua anak laki-lakinya dan jiah, satu-satunya anak perempuan sudah menikah dan memiliki rumah masing-masing. Bu Wariyem yang saat ini hidup sendiri sangat jarang ditemui sedang berkumpul dengan tetangga yang lain. Ia keluar rumah hanya jika ada acara seperti arisan ataupun pengajian seperti saat ini.

Tidak lama setelah bu Wariyem melewati kami yang sedang duduk-duduk santai, seorang ibu-ibu yang kerap sekali menjadi biang gosip langsung membuka percakapan mengenai bu Wariyem, “Kasian ya, apa dia nggak bosen hidup sendiri, lah tapi kalau sudah tua mau menikah sama siapa, paling sama duda kampung sebelah. Hati-hati lho ibu-ibu suaminya dijaga” seperti itulah kata-kata yang keluar dari bibirnya. Satu kalimat yang akan menjadi sebuah pembicaraan yang panjang untuk banyak ibu-ibu di tempat itu. Seperti itu memang kebiasaan yang dilakukan ibu-ibu selain membeli bubur dan cendol. Mereka mulai mencari-cari kekurangan bu Wariyem. Dasar mereka, kadang mengasihani, tapi kadang juga menggunjingnya.

Beberapa hari kemudian, Jiah temanku, anak bu Wariyem dikabarkan pulang kampung. Aku sangat rindu dengannya, terlebih saat ini jiah sudah memiliki seorang anak yang masih bayi. Aku yang belum menikah ini semakin penasaran dan ingin sekali bercerita dengan Jiah. Aku pun bersiap-siap dan bermain ke rumah bu Wariyem dengan membawa tiga plastik es pisang hijau. Sesampainya di sana, Jiah dan sang ibu menyambutku dengan hangat sekali. Seketika aku merasa tidak enak karena sudah mendengar tetangga yang berdekatan denganku pernah menggunjing bu Wariyem yang janda itu. Kasian sekali memang bu Wariyem, namun seperti itulah nasib janda ini, meskipun sudah tua namun tetap dicurigai sehingga ia memilih untuk diam saja di rumah.

Sembari menikmati es pisang hijau, aku mencoba berbasa-basi dengan bu Wariyem. Aku bertanya mengapa dirinya tidak pernah main-main atau duduk-duduk dengan warga yang lain di luar. Bu Wariyem hanya menjawab bahwa ia tidak ingin menjadi omongan orang saja, dan ia pun sudah tahu bahwa ibu-ibu di luar sering menggunjing dirinya ketika dirinya berjalan melewati kelompok ibu-ibu yang lain. Ia hanya menjawab, “Biarkan saja semua orang menggunjing dan saya akan tetap mendoakan kebaikan untuk semua warga disini” seketika aku terkejut dengan jawaban bu Wariyem itu. Betapa tulus dan ikhlas hatinya menghadapi warga yang sering menggunjingnya. Aku hanya berdoa semoga bu Wariyem selalu dilimpahkan sehat dan kebahagian meskipun banyak yang tidak suka kepadanya hanya karena statusnya sebagai seorang janda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar