Selasa, 03 Desember 2019

Kisah Cinta


Air mataku tak bisa membohongi perasaan yang ada di dalam hatiku. Aku kehilangan seorang sahabat. Aku hanya diam terpaku di samping jenazahnya bersama suaminya itu. Si suami yang sudah terlihat pucat dan lelah itu masih menitikan air matanya. Kehilangan seorang istri sama saja seperti kehilangan separuh dari jiwanya.Pernikahan mereka sudah hampir lima tahun, tapi persahabatan kita bertiga sudah lebih dari itu. Betemu di jaman SMA dan berlanjut hingga bangku perkuliahan dan pelaminan bagi dua sahabatku Lela dan Fajar. Fajar menyukai Lela dari jaman sebelum persahabatan kita terjalin. Aku memiliki dua seorang sahabat yang sangat dekat. Lela sahabatku di rumah, persahabatan kita terjalin sejak aku dan dia kecil.

Ibu kami saling bertetangga dan hamil di waktu yang sama. Umurku dan Lela tidak berbeda jauh, hanya hitungan  hari saja, namun aku dan Lela tidak berada pada satu sekolah yang sama, Sementara Fajar adalah sahabatku sejak SMP. Selain memiliki hobi balap motor yang sama, kami berdua selalu selalu ditakdirkan untuk berada pada satu kelas yang sama sehingga sangat sering aku mengajaknya untuk bermain ke rumah dan mengerjakan tugas bersama-sama. Lela yang juga sudah seperti saudara ssering bolak-balik main ke rumah. Dari situ lah Fajar dan Lela berkenalan. Kita bertiga sepakat untuk melanjutkan sekolah di SMA yang sama.

Tapi sayang, mereka memilih jurusan yang berbeda denganku. Mereka masuk kelas IPS, sementara aku harus berada di kelas IPA karena ibuku yang meminta agar kelak aku menjadi seorang dokter.
Setelah lulus sekolah, persahabatan kami masih terus berlangsung hingga Fajar dan Lela sepakat untuk menikah. Mereka memilih menikah sebelum lulus kuliah. Pernikahan mereka tidak  terus membuat persahabatan kita menjadi pecar, malah justru saling menguatkan. Fajar sangat beruntung bisa memiliki seorang istri seperti Lela, seorang perempuan yang mandiri dan pekerja keras. Ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarga.

Sementara Fajar tidak bisa lagi bekerja karena kakinya yang diamputasi sebab kecelakaan yang di alaminya saat lomba balap yang diikutinya belum lama ini. Sebagai seorang sahabat aku hanya bisa menghibur dan sedikit ikut mengobati Fajar yang terkadang merintih kesakitan karena kakinya itu.
Sepulang praktik dari rumah sakit, aku selalu mengunjungi keluarga kecil sahabatku itu. Aku merasa kasihan pada Lela yang harus merawat Fajar sendirian. Akhirnya sebagai sahabat yang baik, aku pun ikut serta merawatnya dan waktuku banyak kuhabiskan untuk menemani Lela sembari mendengar curahan hatinya yang terkadang lelah harus bekerja mencari nafkah dan mengurus suaminya yang sakit.

Sebagai seorang sahabat juga aku mencoba untuk menyabarkan hati Lela. Dalam hati aku tak kuat melihatnya harus menanggung beban yang berat, inginku menggantikan posisi Fajar saja.
Tiba-tiba lamunan itu terpecah ketika aku mendengar teriakan kencang dari arah dapur di rumah Lela. Aku berlari dan mendapati Lela sudah tidak sadarkan diri. Ia terpeleset dan terjatuh dengan kepala membentur sebuah pojokan bak mandi. Darahnya mengalir dengan derasnya. Aku menggendong dan melarikannya ke rumah sakit. Dua hari aku menangani Lela yang tidak sadarkan diri. Tekanan darahnya semakin menurun dan akhirnya di suatu sore dengan mega yang hitam, Lela menghembuskan nafas terakhirnya.

Aku dan Fajar menyaksikan kepergiannya sore itu. Kami berada di sampingnya. Fajar yang hanya bisa duduk di sebelahku hanya diam menunduk. Matanya sayup, entah apa yang akan dilakukan karena keterbatasannya. Air matanya mulai menetes dan lelah tampak menyertainya. Aku mendorong kursi rodanya keluar ruangan karena jenazah Lela yang akan diurus oleh perawat.Setelah mengantarkan Fajar, aku kembali masuk ke ruangan sambil menunggu perawat yang datang. Aku memandang wajah Lela yang pucat dan mulai kaku. Air mataku mengalir deras, aku kehilangan Lela untuk kedua kalinya. Dulu Lela meningalkanku untuk menikah dengan Fajar, kini ia harus pergi untuk selamanya. Dengan tangis sesenggukan, aku pegang tangan Lela yang dingin. Aku cium tangan itu dan aku kecup keningnya untuk terakhir kalinya. Aku mencintai Lela.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar