Selasa, 03 Desember 2019

Malah Justru Menyatu


Kalau untuk soal menikah itu gampang. Saat ini juga aku bisa menikah. Ada beberapa juga orang tua yang memintaku agar menikah dengan anaknya saja”, “Tapi kok kamu ngga mau? kenapa nggak diterima?”, “Aku belum siap menikah. Aku takut gagal lagi, atau ternyata perempuan yang akan menikah denganku ternyata tidak ikhlas untuk dinikahkan denganku”, “Kenapa harus kalah dengan masa lalu? bangkit dong, jangan menolak yang sudah ada di depan mata dan bersyukurlah”, “Sudah lah, aku hanya ingin yang bisa saling, saling menerima dan melengkapi. Tidak hanya nikah saja”, “Oh, yasudah berdoa lah yang lebih sering dan pilihlah wanita yang benar-benar kamu inginkan, semoga berhasil ya”.

Sore itu, Faisal dan Rini berdua berboncengan menaiki sepeda motor. Faisal menjemput Rini yang baru saja turun dari bus. Mereka berdua juga baru pertama kali bertemu. Sebelumnya, mereka hanya sering berkomunikasi lewat telfon genggam saja. Tapi, Faisal dan Rini sudah cukup akrab dan saling mengenal karena seringnya berkomunikasi lewat telfon. Faisal adalah seorang laki-laki berumur 27 tahun dan sudah memiliki pekerjaan yang mapan. Salah satu keluarganya mengenalkan dirinya kepada perempuan, tetangganya, yang baru saja lulus kuliah. Keduanya diminta untuk saling bertukar nomor dan menjalani proses pendekatan, namun yang terjadi tidaklah seperti pasangan dalam cerita yang akhirnya saling mengenal dan menikah.

Mereka berdua justru menjadi sahabat dan teman untuk mencurahkan isi hatinya.Karena mengetahui sifat Faisal yang sombong karena ceritanya yang menolak beberapa perempuan untuk dinikahinya, akhirnya Rini pun selalu bersikap jual mahal di depan Faisal. Ia mengaku untuk tidak pernah bermain dengan hati, begitu pun dengan Faisal. Mereka berdua menjadi saling jual mahal satu sama lain meskipun pada kenyataannya mereka berdua saling mengeluh dan juga saling perhatian.Walaupun jual mahal, namun Rini tidak pernah mengatakan bahwa di luar sana banyak yang menantinya dan mereka semua ditolaknya.

Sementara Faisal selalu ingin terlihat lebih di mata Rini. Mereka berdua selalu ingin merasa lebih keren, terlebih Faisal. Rini yang cuek pun tidak pernah ingin mendengarkan Faisal jika sedang pamer dengan kelebihan-kelebihannya. Rini memilih untuk tetap diam dan ingin terlihat bahwa ia memang tidak pernah membawa-bawa masalah hati dalam persahabatan.Petemuan kali ini berlangsung singkat. Faisal dan Rini hanya pergi ke tempat makan dan pulang. Dan lagi, dalam pertemuan pertama dan singkat itu, Faisal kembali memuji-muji dirinya yang diminta beberapa orang tua untuk menikahi anaknya. Ia juga memuji bahwa wanita yang akan dikenalkan kepada dirinya adalah wanita yang cantik, sholehah, dan berasal dari keluarga terpandang.

Tapi, tetap saja ketika Rini bertanya mengapa Faisal tidak langsung menikahinya saja sementara memang wanita dengan tipe yang seperti itulah yang didambakannya. Faisal malah justru kembali lagi dengan Rini yang selalu saja dibilangnya tomboy dan tidak sholehah. Bahkan, Rini dianggap bukan sama sekali tipe wanita yang diharapkan. hal itu membuat Rini sangat sungkan lagi untuk bersahabat dengan Faisal.Semakin lama semakin menjadi, Faisal berulang kali membuat Rini merasa rendah. Rini yang sudah tidak kuat dengan seluruh perkataan Faisal pun akhirnya berani membuka mulutnya untuk mengutarakan isi hatinya.

Faisal, aku hanya ingin bicara sama kamu. Kamu selalu menganggapku rendah, tidak cantik, tomboy, dan tidak sholehah. Kamu selalu membandingkan aku dengan wanita-wanita yang akan dijodohkan denganmu. Tapi, hingga saat ini, kamu pun tidak menemui mereka, kamu tidak peduli dengan mereka, dan kamu malah memilih mencari aku. Kamu mengajakku bermain dan bercerita. Sesungguhnya aku lelah Sal dan aku sudah tidak sanggup kamu bandingkan terus-terusan” Rini pun memasang raut wajah penuh kesal. Dengan hati-hati Faisal menjawab, “Aku pun bingung dengan sikapku.

Aku seringkali membandingkan kamu dengan mereka. Aku bilang kamu tomboy, jelek, dan tidak sholehah karena memang penampilanmu yang tidak berhijab. Tapi, entah mengapa. Jika boleh jujur aku nyaman berada di dekatmu, aku merasa di antara kita memang saling melengkapi. Aku yang terlalu egois dan kamu yang terlalu sabar” dengan wajah menunduk Faisal mulai mengakui kesalahannya.“Lalu apa rencanamu Sal? apa akan kita akhiri saja persahabatan ini?” jawab Rini memastikan, “Enggak Rin, aku ngga mau kehilangan kamu. Aku ternyata merasa nyaman denganmu, maukah kamu menerimaku sebagai pasanganmu Rin? Aku minta maaf untuk segala salahku”. Tiba-tiba Rini menangis, ia mengangguk pelan dan mengutarakan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya. Ia mencintai Faisal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar