Selasa, 03 Desember 2019

Menjadi Kaya Agar Harmonis


Menjadi kaya raya adalah impian semua orang. Memiliki banyak uang, rumah yang bagus, dan mobil yang bisa digunakan untuk bepergian agar tidak terkena panas dan hujan adalah keinginan yang pasti ada di kehidupan zaman ini. Laki-laki dan wanita pun saling berlomba untuk berkarir dan menjadi kaya. Terlebih seorang wanita yang takut jika tidak berkarir, nantinya hanya akan disepelekan oleh kaum laki-laki. Jika sudah disepelekan, maka kehidupan harmonis di dalam keluarga tidak akan pernah terjalin. Saat ini, tingkat kekerasan dalam rumah tangga dan angka perceraian yang semakin tinggi salah satunya adalah karena faktor ekonomi.

Sekarang kalau mau beli apa-apa pakai uang. Mau ini dan itu pakai uang. Hal itu lah yang selalu menjadi pembahasan obrolan santai di keluarga pak Tirto.Rindi, teman dari anak putri pak Tirto yang bernama Ain setiap sore menjelang pulang seringkali mendengar ceramah-ceramah pak Tirto di gasebo yang ada di taman belakang rumahnya. Hampir setiap hari Ain mengajak Rindi bermain di rumahnya. Fasilitas di rumah Ain memang lengkap. Kamarnya dingin karena tersedia alat pendingin ruangan. Ada juga komputer yang biasa digunakan untuk bermain game. Ada juga Mira, pembantu rumah yang selalu ada setiap kali dibutuhkan.

Dan yang paling membuat betah di rumah itu adalah setiap hari tidak pernah ada orang di rumah, hal itu membuat Ain dan Rindi bebas bermain dan berlari-larian.Saking betahnya bermain di ruman Ain, tak jarang orang tua Rindi menjemputnya untuk pulang. Sudah berulang kali orang tua melarang Rindi untuk bermain lama-lama di rumah Ain, takut saja jika ada kejadian yang tidak diinginkan atau ada sesuatu yang hilang maka Rindi yang akan dituduh karena ia yang paling sering bermain di rumah itu. Orang Tua Rindi kerap juga memanggil-manggil dirinya hanya untuk menyuruhnya makan siang.

Ain seringkali mengajak Rindi untuk makan di rumahnya saja dengan sayur dan lauk pauk yang enak, namun Rindi tetap tidak mau. Ia tidak ingin mengecewakan hati ibunya yang sudah memasak dan menyiapkan makan untuknya. Katanya, “Walaupun tidak enak tapi kasian ibuku sudah lelah memasak” perkataan Rindi justru membuat Ain sedih karena ia tidak pernah diperhatikan atau sekedar diingatkan untuk makan oleh orang tuanya karena semuanya sudah diatur oleh Mira di rumah.Ain kerap sekali merasa iri dengan Rindi. Meskipun hidup Rindi dan keluarganya bisa dibilang tidak mampu, namun perhatian dan kasih sayang orang tuanya mengalir dengan deras.

Ain kerap kesal dengan ibunya yang sibuk di pasar dan ayahnya yang sibuk di kantor. Meskipun materi yang Ain dapatkan jauh melebihi Rindi, namun Ain tetap tidak merasa bahagia. Orang tua Rindi hanyalan seorang tukang ojek dan ibunya hanya seorang penjahit di rumah, ia selalu makan masakan orang tuanya di rumah. Setiap berangkat sekolah pun Rindi selalu cium tangan kedua orang tuanya, sementara Ain belum juga bagun tidur tapi orang tuanya sudah pergi ke tempat kerja masing-masing.Ain yang selalu sendiri itu akhirnya ingin ikut bersama Rindi saja dan bermain di rumahnya. Orang tua Rindi pun semakin lama semakin dianggapnya sebagai ibu sendiri. Perhatiannya kepada Ain membuat Ain bahagia walaupun tidak sebesar perhatiannya kepada Rindi.

Orang tua Ain pun akhirnya mengetahui bahwa Ain jarang sekali berada di rumah. Hal itu membuat ayah dan ibunya memarahi Mira. Mira yang tidak tahu apa-apa pun hanya diam saja. Ia hanya menjelaskan bahwa Ain nyaman bermain di rumah Rindi, orang tuanya perhatian, tidak seperti orang tuanya sendiri yang jarang berada di rumah. Ayahnya mulai menyalahkan sang ibu bahwasannya menjadi seorang istri tidak ada tanggung jawabnya sekali dengan anak. Sang istri juga sama, ia menuduh suaminya terlalu sibuk dengan pekerjaan dan materi yang dicarinya hingga anaknya menjadi tidak suka berada di rumah. Mereka pun menyadari, sebuah keharmonisan keluarga tidak hanya berasal dari materi yang mencukupi, namun kasih sayang diantara anggota keluarga pun berperan sangat penting demi terwujudnya keharmonisan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar