Selasa, 03 Desember 2019

Pulang Mondok


Liburan semester genap tahun ini Tiara menghabiskan waktunya di rumah. Tidak seperti biasanya yang harus berlibur ke luar kota. Kesibukannya di pondok pesantren membuatnya memendam banyak rindu pada kampung halaman dan keluarganya. Tiara pulang ke rumah dengan wajah riang dan gembira disambut oleh ayah dan ibunya.Keluarga menyambut kedatangan Tiara dengan suka cita, kecuali sang asisten rumah tangganya. Ia hanya diam saja dan cuek akan kedatangan Tiara. Pekerjaannya saat ini dirasa semakin ringan saat perginya Tiara ke pondok. Tidak ada yang mengomeli dan mennyuruh-nyuruh membuat ini atau mengambil itu.

Dalam hatinya kali ini menggumam, “Satu bulan Tiara akan tinggal di rumah, pastilah rumah ini berantakan lagi dan semakin banyak suruhan”. Sang bibi melempar senyum seadaanya ketika menyambut anak dari majikannya tersebut dan lekas membawa semua barang bawaan milik Tiara. Di sana terdapat begitu banyak koper yang berisi buku-buku hasil koleksi bacaan Tiara dan oleh-oleh berupa makanan  dan baju juga. Tiara mulai membuka oleh-oleh dan memberikannya kepada ayah, ibu, dan tidak lupa kepada bibi rumah. Si bibi tampak kaget, baru kali ini Tiara memberikan oleh-oleh kepadanya, biasanya tidak pernah.

Karena mendapatkan oleh-oleh, si bibi menjadi sedikit senang dan semangat membantu Tiara untuk membongkar barang bawaannya.Di hari kemudian, sang bibi sampai di rumah majikannya dan hendak membangunkan Tiara. Tapi, sampai kamarnya, Tiara sudah tidak ada dan kamarnya sangat jauh berbeda dengan yang dilihat sebelum-sebelumnya. Kamar Tiara tampak bersih dan rapih. Si bibi tampak bingung dan mencari dimana anak majikannya itu. Di pojokan dekat ruang mengaji, si bibi mendapati Tiara sedang merapihkan buku-buku bacaan yang dibawanya dan disusun rapih pada rak yang sepertinya baru dibeli.

Si bibi hanya tersenyum dan melanjutkan jalannya ke arah dapur. Ia mendapati cucian piring pun sudah tidak ada, padahal semalam masih banyak piring yang belum dicuci karena sang ayah membelikan banyak makanan untuk Tiara. Semua piring sudah tertata rapih di raknya. Bibi berjalan juga ke arah cucian baju. Semua baju kotor sudah tidak ada di tempatnya. Si bibi berlari ke lantai atas untuk mengecek apakah baju-baju itu memang sudah dicuci dan dijemur. Dan ternyata bibi mendapat semuanya sudah tersusun di jemuran dengan rapih. Tampaknya semua pekerjaan rumah sudah diselesaikan oleh Tiara. Tapi, si bibi masih tidak percaya. Ia penasaran dan ingin sekali bertanya langsung pada Tiara.

Di sela-sela kerjaannya menyetrika baju, tiba-tiba Tiara datang dan meminta bibi untuk makan terlebih dahulu. Tiara meminta untuk menggantikan menyetrika baju saat bibi sedang makan. Si bibi semakin bingung dengan perubahan yang terjadi pada anak dari majikannya itu. Dulu, Tiara adalah seorang anak yang sangat pemalas. Ia selalu mengandalkan si bibi untuk menyelesaikan semua urusannya. Ia juga selalu menyuruh bibi apapun pekerjaannya. Terkadang, jika keinginannya tidak terealisasikan, Tiara akan marah dan menuduh bibi yang tidak-tidak, bahkan menyuruh sang ibu untuk memecatnya. Maka dari itu, sudah banyak sekali asisten rumah tangga yang keluar masuk di rumah ini. Tapi, bibi yang satu ini adalah bibi yang beruntung.

Sambil menyetrika baju dan menunggu bibi menyelesaikan makannya. Tiara mengajak si bibi berbicara tentang pengalamannya di pondok pesantren, “Bi, maafin Tiara yang dulu ya bi, dulu Tiara suka suruh-suruh bibi dan marah-amarah terusa sama bibi”, “Lho kenapa neng? ya ngga papa atuh, kan bibi mah emang buat disuruh-suruh” dengan logat sundanya si bibi menanggapi Tiara. “Ternyata di pondok itu beda banget bi, disana Tiara harus rajin, harus bangun pagi, dan yang paling penting, disana Tiara harus bisa menghargai teman-teman Tiara bi.

Kalau nggak menghargai, nanti Tiara ga ada temannya”, “Nah kan memang seperti itu neng, jadi orang mah harus menghargai dan menghormati sesama”, “Iya bi, maafin Tiara yang dulu ya. Sekarang Tiara sama Bibi ngga ada bedanya, kita sama-sama manusia yang harus saling tolong menolong ya bi” dan seketika bibi berhenti makan dan memuji Tiara, “Ya Allah, si neneng Tiara teh sudah sadar, ya semoga neng Tiara selalu istiqomah dan selalu mengerjakan hal-hal yang lebih baik lagi ya neng. Bibi doain semoga neng Tiara semakin sukses dan dilancarkan sekolahnya.” Tiara pun nelangsa dan duduk memeluk si bibi. Tiara berjanji akan menjadi seorang anak yang baik dan menghargai sesama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar